Pencarian


 

Tingkat resiko terjadinya penyakit diabetes militus pada pekerja dengan sistem shift






Indo Medika International, Jakarta - tenaga kerja adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk bekerja membuat atau menyediakan barang maupun jasa. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 131,05 juta penduduk Indonesia yang bekerja per Agustus 2021. Jika dilihat dari lapangan pekerjaannya, industri pengolahan mengalami peningkatan jumlah pekerja tertinggi dalam periode tersebut. Tercatat, jumlah penduduk yang bekerja di industri pengolahan meningkat sebanyak 1,22 juta orang pada Agustus 2021 jika dibandingkan dengan Agustus 2020. 

Setiap pekerja memiliki potensi bahaya dan resiko dalam melakukan pekerjaan yang akan berdampak terhadap kesehatan pekerja. Oleh karena itu perusahaan berkewajiban melindungi dan pekerja berhak mendapatkan perlindungan untuk keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini bertujuan agar pekerja tetap produktif dalam melakukan pekerjaan sehingga menghasilkan outcome yang lebih baik untuk perusahaan maupun tenaga kerja.

Sebagian besar perusahaan menerapkan system kerja shift bagi karyawan. Shift kerja atau kerja gilir ialah strategi penjadwalan jam kerja dengan pola tertentu pada suatu kelompok pekerja dengan melakukan pekerjaan dengan porsi yang sama dalam kurun waktu yang berbeda selama 24 jam dan biasanya terdiri dari tiga giliran waktu yaitu pagi, siang, dan malam hari. Perubahan jadwal bekerja dapat menyebabkan perilaku yang tidak sehat seperti perilaku makan yang berlebih, merokok dan olahraga. Perilaku-perilaku tersebut merupakan factor resiko terhadap penyakit dimana yang paling banyak ditemukan yaitu diabetes militus (DM).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ulandari tahun 2020, Shift kerja selain memiliki beberapa keuntungan juga  memiliki dampak negatif salah satunya yaitu  dampak  fisiologis  berupa  gangguan  metabolisme  glukosa  darah  yang  berhubungan  dengan hormon  adrenalin  (epinefrin)  akibat  gangguan  irama  sirkadian.  Hormon  ini  dapat  memacu  laju  dan kekuatan denyut jantung sehingga meningkatkan kadar glukosa darah, yang jika diproduksi berlebihan mengakibatkan  timbulnya  diabetes. Menurut Dokter Sudjoko Kuswadji (CMO PT. Megatama Adikarya) beliau pernah berpendapat bahwa pekerja yang bekerja pada shift malam cenderung memiliki kadar glukosa darah yang lebih tinggi daripada pekerja yang bekerja pada shift pagi. Hal ini disebabkan oleh gangguan metabolisme hormonal yang terjadi karena perubahan waktu biologi tubuh yang menyebabkan hormon pengatur nafsu makan menjadi tidak stabil sehingga meningkatkan rasa lapar dan gangguan metabolisme seperti peningkatan resistensi hormon insulin terhadap gula didalam darah yang dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit diabetes militus (DM).

Diabetes militus adalah suatu gangguan metabolisme kronis atau dalam jangka waktu yang lama. Ditandai dengan tingginya kadar glukosa dalam darah (Hiperglikemia). Diabetes terjadi ketika tubuh pengidapnya tidak lagi mampu mengambil gula (glukosa) ke dalam sel dan menggunakannya sebagai energi. Kondisi ini pada akhirnya menghasilkan penumpukan gula ekstra dalam aliran darah tubuh.

 

Bukan DM

Belum pasti DM

DM

Kadar glukosa darah sewaktu

-       Plasma vena

-       Darah kapiler

 

Kadar glukosa darah puasa

-       Plasma vena

-       Darah kapiler

 

< 100

<80

 

<110

<90

 

100-200

80-200

 

110-120

90-110

 

>200

>200

 

>126

>110

Cara perusahaan untuk mengendalikan efek terhadap kesehatan yang diakibatkan oleh sihift kerja.

Shift  kerja  selain  memiliki  dampak positif juga memiliki dampak negatif yang tidak dapat  dihindari.  Agar  efek  negatif  yang ditimbulkan  oleh  shift  kerja  ini  dapat diminimalisir  maka perlu adanya  upaya pengendalian. Ada beberapa pengendalian yang dapat dilakukan perusahaan agar dapat menimalisir dampak shift kerja bagi kesehatan

  • Menurut Caruso  (2012),  strategi  dalam menangani  efek  yang  diakibatkan  oleh  shift kerja  lebih  difokuskan  pada  pencegahan  dan pengendalian stress ditempat kerja, karena  shift kerja  bertindak  sebagai    Strategi  yang dapat  dilakukan  diantaranya  melalui  strategi penanganan  organisasional,  individual  dan dukungan social.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan berkala (MCU) bagi  karyawan  yang  diadakan  setiap  1 tahun    Hal  ini  dapat  digunakan  sebagai upaya  untuk  memonitoring  terhadap  kondisi kesehatan  pekerja  dan  tindakan  pencegahan terhadap kondisi yang tidak diinginkan, seperti terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
  • Perusahaan dapat melakukan program olahraga rutin bagi karyawan. Hal ini dikarenakan jika jarang melakukan olahraga pada pekerja dengan system shift maka akan memicu timbulnya penyakit dengeneratif seperti obesitas, diabetes militus dan hipertensi. Hal ini sejalan dengan penelitian Noer dan Laksmi  (2014),  bahwa  pekerja  shift  memiliki persentase  kejadian  obesitas  yang  lebih  tinggi darp pada pekerja  non-shift. Hal  ini  disebabkan  karena  perubahan  perilaku makan  dan  kelelahan  pada  pekerja  shift  yang cenderung  mengkonsumsi  makanan  atau minuman yang manis dan junk food.
  • Menerapkan diet sebagai strategi  penanganan  individual  yang  dapat diterapkan  oleh  pekerja  yang  bekerja  dengan sistem kerja  shift  atau pekerja dengan jam kerja yang  panjang,  diantaranya  yakni  untuk menghindari atau mengurangi asupan makanan selama  tengah  malam  sampai  dengan  jam  6 pagi, tujuan agar  siklus  circadian  tidak  Karena  siklus  circadian,  umumnya  organ pencernaan  kita  bekerja  pada  pagi  hari  dan istirahat pada malam hari sehingga pekerja  shift dianjurkan  agar  lebih  banyak  mengonsumsi makanan  yang  memiliki  serat  tinggi  seperti sayur  dan  buah,  serta  makanan  yang  memiliki kandungan protein tinggi.